Tuesday, 13 November 2018

Pregnancy & Labor (FAQ)

Dalam post kali ini, saya akan merangkum beberapa pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman ke saya, yang saya sendiri juga tidak tahu jawabannya hungga saya mengalaminya sendiri.

Here goes!

Q: Bagaimana pertamanya bisa tau kamu hamil?
A: Kebanyakan orang melakukan tes kehamilan karena mengalami morning sickness. Seperti yang selalu saya sebut, saya tidak muntah-muntah selama hamil, memang agak eneg jika minum air putih tapi hanya sebatas itu. Lalu bagaimana cara saya tahu saya hamil? Saya sedang naik kereta ke kampus (posisi berdiri) dan agak mual, mata saya kunang-kunang (katanya saat hamil darah kita banyak terpusat di janin, maka kadang seperti kurang darah), sudah 3 hari sejak tanggal saya seharusnya menstruasi (saya tipe orang yang jadwal menstruasinya sangat teratur), jadi saat pulang kuliah saya cek deh pakai test-pack. Dan ternyata benar saya hamil.

Q: Mengalami ngidam enggak?
A: Saya kurang paham dengan pertanyaan ini, ada yang menganggap ‘ngidam’ memiliki arti ‘muntah-muntah karena kehamilan’, sedangkan saya mendefinisikannya sebagai ‘tiba-tiba ingin sesuatu’. Tidak, saya tidak mengalami keduanya. Memang sering sekali ingin makan manis tapi saya membatasi diri (terlalu membatasi diri ternyata) karena takut bayi saya terlalu besar.

Q: Kok saya sudah hamil X bulan tapi belum kelihatan ya perutnya?
A: Perut saya juga baru terlihat banget besarnya saat bulan ke 8-9, bulan 5-7 mulai membuncit tapi belum terlalu besar. Apalagi saya sering pakai baju longgar. Selain itu sepengetahuan saya, ada juga beberapa wanita yang disebut dokter memiliki rahim yang posisinya agak ke dalam sehingga perutnya tidak akan terlalu buncit hingga hamil bulan tua sekalipun.

Q: Waktu hamil disuruh tokso dan rubella?
A: Jujur saja, saya tidak tes, karena dokter obgyn saya tipe yang santai sekali tidak mau bikin pasiennya parno. Menurut beliau, pasiennya baru disuruh tes untuk 2 virus tersebut jika selama kehamilan menampakkan gejala-gejala sakit tersebut.
Mengenai hal ini saya mau share pengalaman 2 orang yang tidak saling mengenal ya.
    Mbak Gina, adalah teman kuliah saya S2, dia pernah bercerita soal sepupunya, Mbak Tita. Mbak Tita saat hamil divonis positif tokso dan diharuskan makan obat-obatan tertentu selama hamil oleh dokter, ternyata saat lahir, anaknya ada kekurangan. Lalu saat Mbak Gina hamil, dia juga divonis positif tokso, tapi dia tidak serta merta mengkonsumsi obat yang dianjurkan dokter, setelah melihat apa yang terjadi pada anak Mbak Tita dia mencari 2nd opinion dan dokter kedua berkata "Ah, ga usah makan obat macem-macem, istri saya juga waktu hamil positif tokso, ga makan obat, nih foto istri dan anak saya, sehat-sehat saja.". Dan Alhamdulillah, anak Mbak Gina lahir sehat walafiat.
    Ada lagi kasus lain, Mbak Gaby yang divonis "Rubella Lampau" apa lagi nih? Kurang paham juga, mungkin teman-teman kedokteran lebih paham ya. Nah Mbak Gaby disuruh konsumsi obat banyak banget sama dokternya, tapi segera saya sampaikan kasusnya Mbak Gina, nah Mbak Gaby mencari 2nd & 3rd opinion, dan akhirnya sama seperti Mbak Gina, dokter lain tidak menyarankan makan obat macam-macam, sehingga Mbak Gaby tidak makan obat yang dianjurkan dokter pertama. Alhamdulillah anaknya lahir sehat walafiat, tampan dan gembul.

Q: Kenapa melahirkan secara Caesar?
A: Karena mata saya minusnya sudah sangat tinggi (6.75). Jadi, jika seorang ibu hamil memiliki minus yang tinggi, pasti akan dianjurkan untuk check up ke dokter mata untuk melihat pelekatan retina (kalau tidak salah). Karena ibu hamil dengan minus tinggi jika melahirkan secara normal ditakutkan mengalami ablasi retina (retinanya rusak atau sejenisnya) saat mengejan.
Sebetulnya tidak semua ibu hamil yang minusnya tinggi diharuskan menjalani operasi Caesar, karena obgyn saya juga bilang pernah punya pasien minus 6.5 yang melahirkan normal karena dokter matanya bilang syaraf matanya masih oke. Maka, vonis harus melahirkan Caesar atau tidak itu bukan dari obgyn saja, melainkan juga harus berdasarkan rekomendasi dokter mata.
Saya ke Jakarta Eye Center dan dokternya bilang “Wah ini sih bukan beresiko lagi, melainkan sudah hampir pasti akan ablasi kalau melahirkan secara normal.”
Selain karena minus atau posisi bayi sungsang, operasi caesar juga biasanya disarankan untuk ibu yang memiliki tekanan darah tinggi dan mereka yang janinnya besar namun memiliki panggul sempit.

Q: Bagaimana sih rasanya kontraksi?
A: Kalau yang saya alami sih, pinggang pegal-pegal seperti hari pertama menstruasi.

Q: Air ketuban itu seperti apa?
A: Bening dan encer, mungkin ada baunya tapi saya tidak mencium karena sudah panik. Airnya keluar terus menerus seperti air seni yang tidak bisa ditahan. Oh iya, sekedar informasi tambahan, dari yang saya dengar dari perawat dan bidan, kalau air ketuban warna hijau, artinya ibunya stress dan baiknya bayi segera dikeluarkan.

Q: Bagaimana sih rasanya operasi Caesar? Apa benar lebih sakit dari melahirkan normal?
A: Selama operasi saya cuma merasakan seperti kesemutan di bagian pinggang ke bawah setiap kali disentuh. Dan rasanya seperti tidak punya kendali terhadap tubuh bagian situ. Lemas.
Nah, setelah operasinya atau selama masa pemulihan inilah yang konon katanya sakit sekali dan sakitnya lama. Sebelum mengalaminya, saya membayangkan sakitnya akan seperti sakit jika kita terjatuh dari motor atau bagaimana. Ternyata, sakitnya kurang lebih seperti keram perut saja kok. Sakit di dalam, bukan open wound. Ya, sakit memang saat ingin berpindah posisi dari duduk ke berdiri atau sebaliknya (apalagi duduk di karpet). Tapi tidak sesakit yang saya bayangkan.
Kalau baca cerita kids zaman now yang melahirkan secara normal suka ada kalimat “Pas udah sakit banget, mataku udah gelap, kupikir udah mau mati….” Well, in short, saya tidak mengalami sakit seperti itu.

Kalau soal menyusui dan MPASI kayaknya sudah banyak ya informasinya beredar di sosial media, so that’s all from me now! Hindari hyper-parenting ya, new mom & dads!