Friday, 4 January 2019

IRT dengan ART Capek?


“It’s so easy to lose yourself while trying to help a person becoming someone.”

“Mama baca, ini artis nih ya yang ngomong, dia mengaku saatnya dia bisa jadi diri sendiri ya di tempat kerja, kalau di rumah kan mengurus anak dan suami.”

“Ibu bekerja masih bertemu teman-teman sekantor, Ibu Rumah Tangga mau ketemu teman kapan?”

Ya, mungkin bagi beberapa oknum, saya memang manja banget, anak baru satu, suami baru satu, gak bekerja, tapi kok pake asisten rumah tangga segala? Kasihan banget suaminya, udah yang berpenghasilan cuma dia, gajinya kekuras karena istrinya manja pula.

Ya saya juga sebenarnya merasa ga perlu-perlu banget sih ada ART, Mama Papa saya yang memaksa, sebelum saya pindah ke Semarang, saya harus sudah punya ART dulu. Pekerjan ART saya sedikit sekali, baju yang dicuci dan digosok sedikit, rumah yang dibersihkan juga tidak besar maupun bertingkat. Artinya bisa dong saya juga kerjakan sendiri?

Nah terus kalo pekerjaan rumah tangga semuanya dikerjain ART, seharusnya saya tidak merasakan lelah dong ya? Yea physically not really lah, Minka juga ga gendut, dan anaknya dari dulu ga suka minta gendong.

Lalu kenapa bisa seorang IRT dengan ART merasa lelah di penghujung hari?

Saya juga tidak tau, mungkin mentally tired? Saya pernah baca “Yang membuat Ibu selalu merasa lelah adalah karena Ibu selalu memiliki rasa khawatir.”

Ya saya memang khawatir setiap hari, khawatir apakah anak saya sudah cukup asupan gizinya? Sudah cukup saya bantu perkembangannya? Sudah cukup kasih sayang? Saya kan stay di rumah, harusnya bisa semaksimal mungkin dong ya urus anak? (HIGH EXPECTATION KILLS!) 

Lalu banyak waktu di mana saya khawatirkan diri sendiri. Apakah saya bisa segera punya penghasilan lagi agar bisa memberi uang ke orang tua saya? Apakah teman-teman saya yang single masih menerima saya yang kalau bertemu harus bawa anak? Bagaimana saya bisa mengobrol dengan teman-teman sebaya jika tidak tau tv series terbaru/ film terbaru/ artis terbaru? (Seriously I don’t have any time to watch anything, actually I have but I turn off the tv all day for my daughter’s sake, and I’ve  said goodbye to my laptop long ago) Apakah saya akan segera kehilangan jati diri?

Jujur saja, satu-satunya interaksi saya dengan orang dewasa setiap harinya hanyalah melalu Whatsapp atau Sosial Media, secara langsung saya bertemu suami pun hanya pagi dan malam hari, hanya beberapa jam dengan ART saya. Apakah saya akan segera hanya bisa berfungsi sebagai ‘Ibu’ saja? Tidak bisa jadi ‘teman’, 'kakak', atau 'pegawai'? Apakah saya masih bisa berfungsi dengan baik secara profesional dan dalam lingkaran sosial saya?

Khawatir akan anak. Khawatir akan diri sendiri. Mungkin terdengar sepele, tapi anda harus coba menjalaninya dulu 24 jam setiap harinya, 5 hari seminggu, selama 7 bulan.