“It’s so easy to lose yourself while trying to help a person
becoming someone.”
“Mama baca, ini artis nih ya yang ngomong, dia mengaku
saatnya dia bisa jadi diri sendiri ya di tempat kerja, kalau di rumah kan
mengurus anak dan suami.”
“Ibu bekerja masih bertemu teman-teman sekantor, Ibu Rumah
Tangga mau ketemu teman kapan?”
Ya, mungkin bagi beberapa oknum, saya memang manja banget,
anak baru satu, suami baru satu, gak bekerja, tapi kok pake asisten rumah
tangga segala? Kasihan banget suaminya, udah yang berpenghasilan cuma dia,
gajinya kekuras karena istrinya manja pula.
Ya saya juga sebenarnya merasa ga perlu-perlu banget sih ada
ART, Mama Papa saya yang memaksa, sebelum saya pindah ke Semarang, saya harus
sudah punya ART dulu. Pekerjan ART saya sedikit sekali, baju yang dicuci dan
digosok sedikit, rumah yang dibersihkan juga tidak besar maupun bertingkat.
Artinya bisa dong saya juga kerjakan sendiri?
Nah terus kalo pekerjaan rumah tangga semuanya dikerjain
ART, seharusnya saya tidak merasakan lelah dong ya? Yea physically not really lah,
Minka juga ga gendut, dan anaknya dari dulu ga suka minta gendong.
Lalu kenapa bisa seorang IRT dengan ART merasa lelah di
penghujung hari?
Saya juga tidak tau, mungkin mentally tired? Saya pernah
baca “Yang membuat Ibu selalu merasa lelah adalah karena Ibu selalu memiliki
rasa khawatir.”
Ya saya memang khawatir setiap hari, khawatir apakah anak
saya sudah cukup asupan gizinya? Sudah cukup saya bantu perkembangannya? Sudah
cukup kasih sayang? Saya kan stay di rumah, harusnya bisa semaksimal mungkin
dong ya urus anak? (HIGH EXPECTATION KILLS!)
Lalu banyak waktu di mana saya
khawatirkan diri sendiri. Apakah saya bisa segera punya penghasilan lagi agar
bisa memberi uang ke orang tua saya? Apakah teman-teman saya yang single masih
menerima saya yang kalau bertemu harus bawa anak? Bagaimana saya bisa mengobrol
dengan teman-teman sebaya jika tidak tau tv series terbaru/ film terbaru/ artis
terbaru? (Seriously I don’t have any time to watch anything, actually I have
but I turn off the tv all day for my daughter’s sake, and I’ve said goodbye to my laptop long ago) Apakah saya
akan segera kehilangan jati diri?
Jujur saja, satu-satunya interaksi saya dengan orang dewasa
setiap harinya hanyalah melalu Whatsapp atau Sosial Media, secara langsung saya
bertemu suami pun hanya pagi dan malam hari, hanya beberapa jam dengan ART
saya. Apakah saya akan segera hanya bisa berfungsi sebagai ‘Ibu’ saja? Tidak
bisa jadi ‘teman’, 'kakak', atau 'pegawai'? Apakah saya masih bisa berfungsi dengan baik secara profesional
dan dalam lingkaran sosial saya?
Khawatir akan anak. Khawatir akan diri sendiri. Mungkin
terdengar sepele, tapi anda harus coba menjalaninya dulu 24 jam setiap harinya,
5 hari seminggu, selama 7 bulan.
No comments:
Post a Comment